KEISTIMEWAAN BUAH PISANG DALAM AL-QUR’AN

MAKALAH

TAKSONOMI TUMBUHAN TINGGI

KEISTIMEWAAN BUAH PISANG (Musa paradisiaca) DALAM AL-QUR’AN

Dosen Pengampu:

Drs. SULISETJONO, M.Si

AINUN NIKMATI LAILY, M.Si

Disusun oleh:

                                          NAMA            : HAFID CHOIRUL ANWAR

                                           NIM                : 10620091

                                           KELAS             : BIOLOGI  C

                                           SEMESTER      : IV

 

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM

MALANG

2012

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pisang merupakan salah satu buah yang berasal dari Asia Tenggara. Para saudagar Islam menyebarluaskan pertumbuhan tanaman ini hingga ke Afrika Barat, Amerika Selatan, dan Amerika Tengah. Akhirnya tanaman pisang ini pun menyebar luas ke berbagai penjuru dunia. Indonesia merupakan negara penghasil pisang nomor empat di dunia. Pada tahun 2004 lalu, produksi pisang Indonesia mencapai 4.874.439 ton. Namun, meskipun produksi pisang bangsa ini cukup melimpah, tingkat konsumsi pisang penduduk Indonesia masih tergolong sangat rendah. Pisang (Musa paradisiaca) yang merupakan komoditas asli Indonesia dapat dijadikan salah satu andalan produk hortikultura yang diharapkan dapat bersaing dipasar bebas (Herdiansyah; 2007).
Segala sesuatu yang diciptakan di dunia ini tak ada yang sia-sia, Tuhan pasti mempunyai maksud dan tujuan tertentu walau hal sekecil apapun. Misal seperti tumbuhan pisang, dalam segi manfaat kandungannya bagi manusia, ataupun keistimewaan lainnya yang menurut Al-Qur’an sangat bermanfaat. Sehingga akan dibahas dalam makalah ini.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Apakah keistimewaan tumbuhan pisang menurut Al-Qur’an?
  2. Apakah manfaat buah pisang menurut Al-Qur’an?

1.3 Tujuan

  1. Untuk mengetahui keistimewaan tumbuhan pisang menurut Al-Qur’an.
  2. Untuk mengetahui manfaat buah pisang menurut Al-Qur’an.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Klasifikasi

Kingdom: Plantae

Divisi: Magnoliophyta

Kelas: Liliopsida

Sub Kelas: Commelinidae

Ordo: Zingiberales

Famili: Musaceae

Genus: Musa

Spesies: Musa paradisiaca

2.2 Morfologi

Pisang merupakan tumbuhan terna raksasa, batang merupakan batang semu, permukaan batang terihat bekas pelepah daun. tumbuhan ini tidak bercabang, batangnya basah dan tidak mengandung lignin. pelepah daun pada tumbuhan ini menyelubungi batang. Daun pisang memiliki bentuk daun yang memanjang, yaitu bentuk memanjang namun juga agak lebar dibanding dengan bentuk lanset yaitu dengan perbandingan panjang dan lebarnya adalah 21/2-3 : 1 (Suyanti; 2008).

Gambar 1.1 Pohon pisang

Pada pohon pisang untuk ujung daunnya biasanya berbentuk rompang. Daging daunnya tipis seperti kertas dengan pertulangan daun menyirip serta permukaan atas dan bawah daun yang licin berlapis lilin. daun pada tumbuhan ini merupakan daun lengkap, karena memiliki pelepah daun, tangkai daun, dan helaian daun. Tangkai daun bila dipotong melintang bentuknya seperti bulan sabit(Suyanti; 2008).

2.3 Ciri-Ciri Spesifik

Habitus herba perennial yang besar sering menyerupai pohon, tumbuh dari kormus yang simpodial, mati setelah berbunga, pada Ensete monokarpik sedangkan pada Musa bertunas dan pleiokarpik; tumbuhan kadang-kadang menghasilkan alkaloid indol, bertanin (kadang-kadang dengan protosianin) dan membentuk 3-deoksiantosianin tetapi miskin akan flavonoid, kantung rafida pada semua bagian; batang lunak disokong terutama oleh pelepah-pelepah daun; latisifer tersebar, sel silica berisi badan silica, pelepah saling menutup dan saling menekan membentuk batang semu dimana dari puncaknya keluar petioles yang panjang, lamina melebar dengan urat daun pinnatus yang paralel satu sama lain, menggulung waktu muda(Dasuki; 1991).

Gamabar 1.2 Bunga pisang

Gambar 1.3 Jantung pisang

            Sumbu perbungaan muncul dari kormus, tumbuh ke atas melewati tabung yang dibentuk oleh pelepah-pelepah daun dan keluar dari puncak, biasanya membelok ke satu arah atau terkulai; membawa braktea-braktea yang besar membentuk perahu, tersusun spiral; setiap braktea membungkus bunga-bunga yang tersusun dalam simosa monokhasium; brektea-braktea yang tersusun rapat tadi membuka pada waktu antesis; setiap bunga epiginus, zigomorf, bernektar, uniseksual, bunga-bunga betina terletak di sebelah bawah (tetapi karena perbungaan menjadi terkulai maka letaknya menjadi di sebelah atas); tepal 6, dakam 2 lingkaran tetapi 3 sepal dan petal bersatu sedangkan petal yang adaksial lepas, stamen umumnya 5, yang kosong berhadapan dengan petal yang lepas atau kadang-kadang berbentuk staminodium kecil, jarang 6 stamen fertile; filament lepas; ginaesium 3 karpel, membentuk ovarium yang inferus, 3 ruang, ovula banyak tiap ruang dengan plasenta aksilaris, stilus 1, stigma 3 lobus. Buah berdaging dengan esokarp yang mudah lepas; biji dengan testa yang keras, dengan endosperm serta perisperm yang beramilum(Dasuki; 1991).

2.4 Keistimewaan Buah Pisang

Allah berfirman dalam QS. Al-Waqiah ayat 29 yang berbunyi:

وَطَلْحٍ مَّنضُودٍ

“Dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya)

Ayat di atas menjelaskan tentang keistimewaan buah pisang yang merupakan salah satu buah khas surga. Begitu istimewanya buah pisang sehingga disejajarkan dengan buah surga lainnya yaitu kurma, delima, dan anggur. Al-Quran telah menyebutkannya sebelum penelitian tentang khasiat buah pisang dilakukan (Herdiansyah; 2007).

Gambar 1.4 Buah pisang

Keistimewaan buah pisang yang ada di surga tersebut belum tentu sama dengan buah-buahan yang ada di dunia. Namun keterangan Al-Qur’an tentang buah-buahan khas surga tersebut mengingatkan kita kepada janji Allah tentang surga dan segala kenikmatannya. Jadi, marilah kita bergegas mengonsumsi buah surga yang satu ini(Herdiansyah; 2007).

2.5 Manfaat Dan Khasiat

Bagi masyarakat Indonesia, mengonsumsi apel atau strawbery terkesan lebih bergengsi dibanding mengonsumsi pisang. Berbeda dengan masyarakat negara Barat yang lebih memilih mengonsumsi pisang yang memiliki banyak khasiat daripada apel maupun strawbery. Adapun beberapa khasiat buah pisang di antaranya yaitu (Herdiansyah; 2007):

  1. Mencegah gangguan jantung dan pembuluh darah
  2. Mengobati gangguan pencernaan
  3. Mengobati hipokalimea
  4. Menurunkan kadar gula darah
  5. Mengurangi mual
  6. Mencegah depresi dan mengobati insomnia

Khasiat pisang sebenarnya tidak hanya sebatas sumber kalori bagi tubuh, khasiat pisang bisa kita manfaatkan dari mengobati luka bakar hingga menormalkan detak jantung. Berikut kandungan zat-zat gizi yang terdapat pada 100gr buah pisang (Herdiansyah; 2007):

  • 1.2 gm protein
  • 0.3 gm lemak
  • 17 mg kalsium
  • 78 mg karotin
  • 88 mg kalium
  • 27.2 gm karbohidrat
  • 0.4 gm fiber
  • 116 kcal tenaga

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pisang merupakan salah satu tumbuhan yang kaya akan manfaat bagi manusia dan makhluk hidup lainnya, dengan keistimewaan yang dimilikinya sehingga dapat disimpulkan layak dimasukan sebagai salah satu tumbuhan yang suci seperti disebutkan dalam kandungan Al-Qur’an surat Al-Waqiah 29. Keistimewaan serta manfaat yang dimiliki oleh tumbuhan pisang diantaranya :

  1. Buah pisang yang merupakan salah satu buah khas surga. Begitu istimewanya buah pisang sehingga disejajarkan dengan buah surga lainnya yaitu kurma, delima, dan anggur.
  2. Keistimewaan buah pisang yang ada di surga tersebut belum tentu sama dengan buah-buahan yang ada di dunia.
  3. Adapun beberapa khasiat buah pisang di antaranya: mencegah gangguan jantung dan pembuluh darah, mengobati gangguan pencernaan.mengobati hipokalimea, menurunkan kadar gula darah, mengurangi mual, mencegah depresi dan mengobati insomnia.

3.2 Saran

Sebaiknya sebagai makhluk yang sempurna dan bisa berfikir, kita dianjurkan untuk selalu bersyukur akan segala sesuatu yang telah diciptakan oleh Allah SWT. Karena setiap yang diciptakan di dunia ini tak ada yang sia-sia, namun mempunyai manfaat dan faedah yang tersembunyi sehingga kita sebagai makhluk Allah diharapkan selalu berusaha mengungkap misteri-misteri akan ciptaan Allah SWT.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Aalyy . 2005. Al-Qur’an Dan Terjemahanya. Bandung: CV. Diponegoro

Dasuki, Undang Ahmad. 1991. Sistemati Tumbuhan Tinggi. Bandung: ITB

Herdiansyah, Heri. 2007. The Miracle: mengungkap Rahasia Makanan dan Minuman Berkhasiat dalam Al-Quran. Jakarta: Zikrul Hakim

Suyanti dan Ahmad Supriyadi. 2008. Pisang, Budidaya, Pengolahan dan Prospek Dasar. Depok: Penebar Swadaya

2 Comments

Filed under Taksonomi Tumbuhan Tinggi

BUAH-BUAHAN YANG DISAJIKAN DIMEJA

1.    Buah Melon (Cucumis melo)

 

 

 

 

 

 

 

 

Klasifikasi

Kingdom: Plantae

Divisi: Magnoliophyta

Kelas: Magnoliopsida

Anak kelas: Dilleniidae

Ordo: Violales

Famili:Cucurbitaceae

Genus: Cucumis

Spesies: Cucumis melo


Deskripsi

a.    Habitat

Tanaman melon dapat tumbuh pada daerah tropik dan subtropik, tanaman ini memerlukan sinar matahari penuh, sehingga tidak cocok ditanam didaerah lembab dan ternaung. Di daerah beriklim lembab selain banyak penyakit juga perkembangan buahnya kurang baik, tanaman ini tumbuh baik  pada tanah berlempung, dengan pH sekitar netral. Tanaman ini dapat tumbuh pada ketinggian 300 – 400 m dpl, suhu yang diperlukan sekitar 25-350C, suhu tinggi mutlak diperlukan pada saat pematangan buah.

b.    Habitus

Melon merupakan tanaman semusim tumbuh merambat dengan daun lebar berukuran 10-20 cm yang muncul pada batang yang sekaligus sebagai pelindung bunga atau buah, bunganya hermafrodit, mampu menghasilkan 1-6 buah melon /tanaman. Buah ini matang setelah 6 minggu sesudah mekar.

c.    Daun

Daun melon lebar bercanggap (berlekuk), menjari agak pendek sehingga seperti lingkaran bersudut. Tulang daun melon menjari dengan lima sudut. Daun warnanya hijau, dan permukaannya berbulu. Tangkai daun panjang dengan ukuran besar, hampir seukuran batang tanaman. Daun ini tersusun berselang-seling menempel di ruas-ruas batang. Di setip ketiak daun akan tumbuh sulur-sulur yang akan membantu tanaman untuk merambat.

d.    Batang

Tanaman melon mirip sekali dengan semangka, yaitu bercabang banyak. Batang melon lebih pendek daripada semangka. Batang melon mempunyai alat pemegang (pilin) untuk memanjat. Batang tanaman berwarna hijau muda, berbentuk segi lima, berbulu, dan memiliki ruas-ruas sebagai tempat munculnya tunas dan daun.

e.     Akar

Akar tumbuhan melon tidak jauh berbeda dengan semangka, mempunyai akar tunggang dan akar samping banyak serta agak dalam. Akar samping berupa serabut yang jumlahnya banyak, kuat, dan panjang.

f.     Bunga

Bunga melon berbentuk seperti lonceng dan berwarna kuning. Bunga ini muncul di setiap ketiak daun. Tumbuhan buah melon bersifat polimorfik, yaitu spesiesnya ada yang berbunga jantan, berbunga betina dan berbunga hermafrodit (sempurna). Bunga betina biasanya terletak di ketiak daun pertama dan kedua dalam setiap ruas percabangan. Sementara itu, bunga jantan terbentuk secara berkelompok dan terdapat di setiap ketiak daun. Walaupun tanaman ini menghasilkan bunga sempurna dengan putik dan benang sari, tetapi penyerbukan sendiri tidak dapat terjadi. Penyerbukan buah harus melalui penyerbukan silang antara bunga jantan dan bunga sempurna dari tanaman yang sama atau antar tanaman. Biasanya lebah madu dan lalat hijau berperan dalam penyerbukan bunga ini.

g.    Buah

Buah melon berbentuk bulat sampai lonjong. Warna daging buah melon bermacam-macam, mulai hijau kekuningan, kuning agak putih, hingga jingga. Bagian tengah buah terdapat massa berlendir yang dipenuhi biji-biji kecil yang jumlahnya banyak. Buah melon umumnya bulat, walaupun ada yang panjang dan tidak banyak mengandung air. Tipe buah melon banyak sekali, di antaranya ada yang berkulit hijau, kuning, dan putih kekuningan. Namun, pada dasarnya ada tiga tipe buah, yakni buah yang kulitnya berjaring (net), kulitnya berjaring tidak jelas, dan berkulit halus tanpa ada tanda jaring. Berat buah melon masak 0,5-2,5 kg. melon hibrida bahkan ada yang beratnya mencapai 4kg, yakni varietas Ten Me dan Action 434.

h.    Biji

Biji buah melon kecil kebanyakan berwarna putih, berjumlah banyak dan dilapisi lendir berada di bagian tengah ruang daging buah.

i.    Manfaat

Sebelum tahun 1990, melon masih asing bagi penduduk Indonesia, tetapi kini sudah menjadi buah “pencuci mulut” yang populer. Buah ini sering disuguhkan di tempat-tempat pesta secara sendiri atau bersama dengan semangka, pepaya, dan nanas. Ada juga yang membuatnya sebagai minuman dingin. Ataupun langsung dikonsumsi buahnya.

 

2.   Buah Semangka (Citrullus lanatus)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Klasifikasi

Kingdom: Plantae

Divisi: Magnoliophyta

Kelas: Magnoliopsida

Anak kelas: Dilleniidae

Ordo: Violales

Famili: Cucurbitaceae

Genus: Citrullus

Spesies: Citrullus lanatus

Deskripsi

a.    Habitat

Semangka berasal dari daerah tropik dan subtropik Afrika. Tumbuh liar di tepi jalan, padang belukar, pantai laut, atau ditanam di kebun dan pekarangan sebagai tanaman buah. Semangka dapat ditemukan dari dataran rendah sampai 1.000 m dpl.

b.    Habitus

Habitus tanaman ini menjalar di atas tanah atau memanjat dengan sulur-sulur atau alat pembelit namun ia tidak dapat membentuk akar adventif. Jangkauan rambatan dapat mencapai belasan meter. Tumbuhan ini akan berbuah bila telah tiba musimnya sehingga dinamakan tumbuhan semusim.

c.    Daun

Daun letak berseling dan berseberangan satu sama lain, tersusun dalam tangkai berukuran relatif panjang, helaian daun lebar, bercangap menyirip kecil-kecil dan berbulu, berbagi menjari, panjang 3–25 cm, lebar 1,5–15 cm, tepi bergelombang, kadang bergigi tidak teratur, permukaan bawah berambut rapat pada tulangnya. Bentuk daun mirip jantung di bagian pangkalnya, ujungnya meruncing, berwarna hijau tua.

d.    Batang

Tumbuhan ini berbatang lunak, bersegi dan berambut, panjangnya 1,5–5 m. Dan sulurnya bercabang menjalar di permukaan tanah atau dirambatkan pada turus dari bilah bamboo.

e.    Akar

Sistem perakarannya tunggang menyebar ke samping dan dangkal.

f.    Bunga

Semangka adalah andromonoecious monoklin, yaitu memiliki dua jenis bunga pada satu tumbuhan: bunga jantan,yang hanya memiliki benang sari (stamen), dan bunga banci/hermafrodit, yang memiliki benang sari dan putik (pistillum). Bunga banci dapat dikenali dari adanya bakal buah (ovarium) di bagian pangkal bunga berupa pembesaran berbentuk oval. Bunga uniseksual, keluar dari ketiak daun, tunggal, biasanya bunga jantan lebih banyak, berbentuk lonceng lebar, warnanya kuning, mekar pada pagi hari. Tipe penyerbukaan pada semangka adalah penyerbukaan silang dan penyerbukaan sendiri. Dalam penyerbukaan dibantu oleh serangga ataupun dibantu oleh manusia.

g.    Buah

Buah berbentuk bola sampai bulat memanjang, besar bervariasi dengan panjang 20–30 cm, diameter 15–20 cm, dengan berat mulai dari 4 kg sampai 20 kg. Kulit buahnya tebal dan berdaging, licin, warnanya bermacam-macam seperti hijau tua, kuning agak putih, atau hijau muda bergaris-garis putih. Daging buah berair, warnanya merah, merah muda (pink), jingga (oranye), kuning, bahkan ada yang putih. Tanaman ini cukup tahan akan kekeringan terutama apabila telah memasuki masa pembentukan buah.

h.    Biji

Biji bentuk memanjang, pipih, warnanya hitam, putih, kuning, atau cokelat kemerahan dengan jumlah yang cukup banyak. Pada semangka dikenal juga semangka tanpa biji. Pada semangka biji jumlah kromosomnya 3n. Secara sederhana, jumlah kromosom (dalam tubuh berbentuk benang dalam sel yang berisi unit-unit warisan disebut gen) pada tanaman semangka normal adalah 2n. Dengan menggunakan bahan kimia colchicine penggandaan normal (diploid) menghasilkan semangka tetraploid tanaman (satu memiliki empat set kromosom). Ada juga yang tanpa biji (seedless) merupakan semangka hibrida F-1 juga. Namun tetua atau induknya masing-masing berasal dari tetua betina semangka tetraploid dengan tetua jantan semangka diploid. Oleh karena itu semangka ini disebut juga semangka hibrida tetraploid.

i.    Manfaat

Dewasa ini buah semangka sudah banyak digunakan oleh orang Indonesia sebagai pencuci mulut sesudah makan, baik di rumah-rumah, tempat pesta, hotel maupun restauran.. Bagian tanaman yang digunakan adalah kulit buah, daging buah, dan bijinya. Kulit buah semangka digunakan untuk pengobatan: bengkak karena timbunan cairan pada penyakit ginjal, kencing manis (diabetes melitus). Daging buah digunakan untuk pengobatan: pingsan karena udara panas (heatstroke), rasa letih, demam, haus disertai mulut kering, napas berbau. Biji digunakan untuk: susah buang air besar selama hamil atau usia tua, radang hati, radang selaput lendir usus, infeksi kandung kemih, kurang darah (anemia), membasmi cacing usus, dan busung lapar.

 

3.   Buah Stroberi (Fragaria x ananassa)

 

 

 

 

 

 

 

 

Klasifikasi

Kingdom: Plantae

Divisi: Magnoliophyta

Kelas: Magnoliopsida

Anak kelas: Rosidae

Ordo: Rosales

Famili: Rosaceae

Genus: Fragaria

Spesies: Fragaria x ananassa  

Deskripsi

a.    Habitat

Stroberi adalah tanaman subtropis yang dapat beradaptasi dengan baik di dataran tinggi tropis yang memiliki temperatur 17–20 derajat C. Kelembaban udara yang baik untuk pertumbuhan tanaman stroberi antara 80-90%. Jika ditanam di kebun, tanah yang dibutuhkan adalah tanah liat berpasir, subur, gembur, mengandung banyak bahan organik, tata air dan udara baik.

b.    Habitus

Stoberi merupakan tanaman herba  berupa semak menjalar, tinggi 15 – 25 cm. Susunan tubuh tanaman stroberi terdiri akar, batang, stolon, daun, bunga, buah dan biji.

c.    Daun

Daun: Tersusun pada tangkai yang berukuran agak panjang. Tangkai daun berbentuk bulat serta permukaannya ditumbuhi oleh bulu-bulu halus. Helai daun bersusun tiga (trifoliata), bagian tepi daun bergerigi, berwarna hijau dan berstruktur tipis.

d.    Batang

Batang: Batang tanaman stroberi beruas-ruas pendek, berbuku-buku serta mengandung banyak air. Batang tertutup oleh pelepah daun, sehingga tampak seperti rumpun tanpa batang. Cabang merayap (stolon): Stolon merupakan cabang kecil yang tumbuh mendatar atau menjalar di atas permukaan tanah. Stolon yang tumbuh mandiri dapat dipotong atau dipisah dari induk dan digunakan sebagai bibit.

e.    Akar

Struktur akar tanaman stroberi terdiri atas pangkal akal (collum), batang akar (corpus), ujung akar (apex), bulu akar (pilus radicalis), serta tudung akar (calyptras). Tanaman stroberi berakar tunggang (radix primaria) terus tumbuh memanjang dan berukuran besar. Panjang akar mencapai 100 cm, akan tetapi biasanya akar tanaman stroberi tersebut hanya menembus lapisan tanah atas sedalam 15 cm– 45 cm, tergantung jenis dan kesuduran tanahnya. Akar tanaman menyebar ke segala arah. Akar-akar primer tanaman dapat bertahan sampai satu tahun lebih, kemudian kering dan mati, selanjutnya digantikan akar oleh akar-akar primer baru yang tumbuh pada ruas paling dekat dengan akar primer yang telah kering tersebut.

f.     Bunga

Tanaman stroberi berbunga sempurna,(hermaprodit). Struktur bunga terdiri atas 5 kelopak bunga (sepal), 5 daun mahkota (petal), 20-35 benang sari (stamen), dan ratusan putik (pistil). Bunga tersusun dalam malai yang berukuran panjang, terletak pada ujung tanaman. Setiap malai bercabang, mempunyai empat macam bunga, yaitu satu bunga primer, dua bunga sekunder, empat bunga tersier, serta delapan bunga kuartener. Bunga primer adalah bunga yang pertama kali mekar pada setiap malai, kemudian disusul bunga-bunga lainnya. Penyerbukan bunga dibantu oleh serangga (lebah) dan angin. Setiap malai bunga dapat menghasilkan lebih dari satu buah.

g.    Buah

Umumnya buah stroberi berbentuk kerucut hingga bulat. Buah yang tampak secara visual disebut buah semu yang berasal dari dasar bunga (receptaculum) kemudian berubah bentuk menjadi gumpalan daging buah. Buah muda berwarna hijau muda, namun setelah tua (matang) berubah menjadi berwarna merah atau kuning kemerah-merahan mengilap.

h.    Biji

Biji stroberi berukuran kecil, pada setiap buah menghasilkan banyak biji. Biji berukuran kecil terletak diantara daging buah. Pada skala penelitiaan atau pemuliaan tanaman biji merupakan alat perbanyakan tanaman secara generatif. Biji hasil pemuliaan biasanya merupakan benih bagi tanaman stroberi varietas baru. Potensi biji pada setiap buah stroberi dapat menghasilkan antara 200-300 butir.

i.      Manfaat

Buah stroberi dimanfaatkan sebagai makanan dalam keadaan segar atau olahannya. Produk makanan yang terbuat dari stroberi telah banyak dikenal misalnya sirup, jam, ataupun stup (compote) stroberi.

 

 

Referensi

Leave a comment

Filed under Taksonomi Tumbuhan Tinggi

TUMBUHAN TEGAKAN DI TEMPAT PEMAKAMAN

1.   MELINJO (Gnetum gnemon L.)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Klasifikasi


Kingdom: Plantae

Divisi: Gnetophyta

Anak divisi: Gnetophytina

Kelas: Gnetopsida

Ordo: Gnetales

Famili: Gnetaceae

Genus: Gnetum

Spesies: Gnetum gnemon L.

Deskripsi

a.    Habitat

Melinjo (Gnetum gnemon L.), adalah tanaman asli Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Habitat tumbuhan ini tersebar dari Assam (India) sampai ke Fiji (Pasifik). Tanaman melinjo dapat tumbuh pada tanah-tanah liat/lempung, berpasir dan berkapur, tetapi tidak tahan terhadap tanah yang tergenang air atau yang berkadar asam tinggi dan dapat tumbuh dari ketinggian 0 – 1.200 m. Melinjo tumbuh liar di hutan-hutan hujan. Melinjo dapat ditemukan di daerah yang kering sampai tropis.  Untuk tumbuh dan berkembang, melinjo tidak memerlukan tanah yang bernutrisi tinggi atau iklim khusus.  Melinjo dapat beradaptasi dengan rentang suhu yang luas. Hal inilah yang menyebabkan melinjo sangat mudah untuk ditemukan di berbagai daerah kecuali daerah pantai karena tumbuhan ini tidak dapat tumbuh di daerah yang memiliki kadar garam yang tinggi. Di Indonesia tumbuhan melinjo tidak hanya dapat dijumpai di hutan dan perkebunan saja. Di beberapa daerah tumbuhan melinjo ditumbuhkan di pekarangan rumah atau kebun rumah dan dimanfaatkan oleh penduduk secara langsung.

b.    Habitus

Melinjo(Gnetom gnemon L.) adalah suatu spesies tanaman tahunan berbiji terbuka (Gymnospermae) berbentuk pohon berumah dua (dioecious, ada individu jantan dan betina) yang selalu hijau dan berbatang lurus, tinggi dapat mencapai 5-10 m. tajuknya membentuk pyramid atau kerucut yang langsing.

 c.    Daun

Daun tunggal berhadapan. Daun berbentuk oval/lonjong dan duduk daun berhadapan dengan tulang daun menyirip, tepi daun rata, daging daun sedikit berkamen, ujung dan pangkal daun berbentuk meruncing, warna daun hijau tua.

 d.   Batang

Berbatang lurus, tinggi dapat mencapai 5-10 m, berkayu dan bercabang jauh dari

permukaan tanah. Batangnya keras dan kuat, karena sebagian besar terdiri atas kayu yang terdapat pada pohon. Mempunyai batang yang di bagian bawahnya lebih besar dan kuat kemudian semakin ke ujung semakin kecil, jadi batangnya dapat dipandang sebagai suatu kerucut atau limas yang amat memanjang. Bentuk penampang melintang batang berbentuk bulat. Arah tumbuh batang tegak lurus ke atas dengan pola percabangan batang monopodial yaitu batang pokok selalu tampak jelas, karena lebih besar dan lebih panjang (lebih cepat pertumbuhannya) dari pada cabang-cabangnya.

e.  Akar

System perakaran pada tumbuhan melinjo yaitu akar tunggang, yaitu akar lembaga tumbuh terus menjadi akar pokok yang bercabang-cabang menjadi akar-akar yang lebih kecil. Akar tunggang ini berbentuk kerucut panjang, tumbuh lurus ke bawah, bercabang-cabang banyak dan cabangnya bercabang lagi, sehingga dapat memberi kekuatan yang lebih besar kepada batang, dan juga daerah perakaran menjadi amat luas, hingga dapat diserap air dan zat-zat makanan yang lebih banyak.

f.    Bunga

Pada tumbuhan melinjo bukan termasuk tumbuhan berbunga sejati, namun mempunyai strobilus yang dapat juga disebut sebagai bunga jantan dan bunga betina.

g.   Buah

Pada tumbuhan melinjo bukan termasuk buah sejati, Yang dianggap sebagai buah sebenarnya adalah biji yang terbungkus oleh selapis aril yang berdaging. Daging ini terasa pahit, mempunyai kulit yang berwarna sperti warna merah, kuning kemerah-merahan atau jingga.

 h.   Biji

Buah melinjo termasuk jenis buah biji terbuka atau Gymnospermae, yaitu bijinya tidak terlindungi oleh bakal buah. Tapi malah memiliki tiga lapisan. Ketiga lapisan tersebut masing-masing dinamakan; kulit luar(sarcotesta), kulit tengah(sclerotesta), dan kulit dalam(endotesta).

i.    Manfaat

Adapun berbagai manfaat tumbuhan melinjo diantaranya, daun-daun muda, bunga dan buah (muda dan tua) biasa diolah menjadi sayur. Bagian paling penting dari Melinjo adalah biji. Biji Melinjo dapat dimakan kering, dimasak, atau diawetkan menjadi kerupuk (Emping). Emping merupakan panganan hasil industri rumah tangga dan berperan penting bagi perekonomian masyarakat di Jawa. Selain itu, pohon Melinjo yang memiliki perakaran kuat ini juga baik ditanam untuk pemulihan kembali areal kritis. Di Jawa Tengah, Melinjo ditanam untuk merehabilitasi lahan dan konservasi tanah di sepanjang Daerah Aliran Sungai Gobeh. Spesies ini telah direkomendasikan sebagai tanaman penghijauan. Kayunya dapat dipakai sebagai bahan papan dan alat rumah tangga sederhana.

 

2.   ASAM  JAWA (Tamarindus indica L.)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Klasifikasi

Kingdom: Plantae

Divisi: Magnoliophyta

Kelas: Magnoliopsida

Sub kelas: Rosidae

Ordo: Fabales

Famili: Fabaceae

Genus: Tamarindus

Spesies: Tamarindus indica L.

Deskripsi

a.    Habitat

Asam jawa termasuk tumbuhan tropis. Asal-usulnya diperkirakan dari savana Afrika timur di mana jenis liarnya ditemukan, salah satunya di Sudan. Semenjak ribuan tahun, tanaman ini telah menjelajah ke Asia tropis, dan kemudian juga ke Karibia dan Amerika Latin. Di banyak tempat yang bersesuaian, termasuk di Indonesia, tanaman ini sebagian meliar seperti di hutan-hutan savana. Pohon asam dapat tumbuh baik hingga ketinggian sekitar 1.000 m dpl, pada tanah berpasir atau tanah liat, khususnya di wilayah yang musim keringnya jelas dan cukup panjang.

b.    Habitus

Tumbuhan asam jawa (Tamarindus indica L.) adalah salah satu jenis tumbuhan tegakan yang pohonya selalu hijau, tinggi sampai 30 m dengan tajuk yang lebat dan melebar, serta memiliki cabang yang pendek (virgule dan virgule sucrescens). Serta termasuk kedalam percabangan simpodial yaitu batang pokok sukar dibedakan karena perkembangan selanjutnya mungkin lalu menghentikan pertumbuhannya lalu atau kalah besar dan kalah cepat pertumbuhannya dibanding dengan cabangnya, serta memiliki warna coklat muda.

c.    Daun

Daun menyirip genap (abrupte pinnatus), panjang 5-13 cm, terletak berseling, dengan daun penumpu seperti pita meruncing, merah jambu keputihan. Anak daun lonjong menyempit, 8-16 pasang, masing-masing berukuran 0.5-1 x 1-3.5 cm, bertepi rata, pangkalnya miring dan membundar, ujing membundar hingga sedikit berlekuk.

Biasanya disini terdapat sejumlah anak daun yang berpasang-pasangan di kanan kiri ibu tulang, oleh sebab itu jumlah anak daunya biasanya lalu menjadi genap. Akan tetapi, mengingat bahwa pada suatu daun majemuk menyirip anak-anak daun tidak selalu berpasang-pasangan, maka untuk menentukan apakah suatu daun menyirip genap atau tidak, orang tidak lagi menghitung jumlah anak daun, tetapi melihat kepada ujung ibu tangkainya. Jika ujung ibu tangkai terputus, artinya pada ujung ibu tangkai tidak terdapat suatu anak daun, sehingga ujung ibu tangkai bebas, atau kadang-kadang tertutup oleh suatu pucuk kecil yang mudah runtuh, maka hal itu berarti bahwa daun yang menyirip genap. Dengan  keterangan ini jelaslah, bahwa satu daun majemuk menyirip genap mungkin mempunyai jumlah anak daun yang gasal. Daun majemuk menyirip genap a.l. terdapat pada pohon asam (Tamarindus indica L.) yang anak daunya berpasang-pasangan, jadi jumlah anak daun benar genap. Daun majemuk menyirip genap, tetapi jumlah anak daunnya gasal dapat kita jumpai misalnya pada pohon leci (Litchi chinensis Sonn.) dan kepulasan (Nepphelium mutabile B.)

d.   Batang

Batang berkayu, berbatang jelas, bulat diameter batang di pangkal hingga 2 m, kulit batang berwarna coklat keabu-abuan, kasar dan memecah, beralur-alur vertical. Tajuknya rindang dan lebat, berdaun, melebar dan membulat.

e.    Akar

System perakaran tunggang (radix primaria) yang menembus ke dalam tanah. Akar pokok yang bercabang-cabang menjadi akar-akar yang lebih kecil.

f.    Bunga

Bunga tersusun dalam tandan renggang, diketiak daun atau diujung ranting, sampai 16 cm panjangnya. Bunga kupu-kupu dengan kelopak 4 buah dan daun mahkota 5 buah, berbau harum. Mahkota kuning keputihan dengan urat-urat merah coklat, sampai 1.5 cm

g.    Buah

Buah sejati tunggal (buah sungguh) dan kering, panjang 5-15 cm, buah rapuh, polong yang menggelembung, hamper silindris, bengkok atatu lurus, berbiji sampai 10 butir, sering dengan penyempitan diantara dua biji, kulit buah (eksokarp) mengeras berwarna kecoklatan atatu kelabu bersisik, dengan urat-urat yang mengeras dan liat berupa benang. Daging buah (mesokarp) putih kehijaun ketika muda, menjadi merah kecoklatan sampai kehitaman ketika sangat masak, rasanya asam manis dan melengkat.

h.    Biji

Biji kemerah-merahan, coklat tua, hitam berkilat atau coklat kehitaman, mengkilap dank eras, agak persegi, panjang sampai 18 mm, dengan testa keras yang halus. Dalam satu kilogram tedapat 1800 – 2600 benih.

i.     Manfaat

Asam biasanya ditanam sebagai penghasil buah, tapi juga penghasil kayu yang bernilai. Daging buah yang tinggi vitamin B dapat dimakan mentah atau dibuat selai, sirop atau permen, aneka bahan makanan atau bumbu. Bunga, daun, dan biji juga dapat dimakan dan digunakan dalam berbagai masakan. Kayunya digunakan sebagai bahan mebel, kayu bakar dan arang. Akarnya yang dalam membuat jenis ini sangat tahan terhadap badai dan cocok sebagai penghalang angin. Pohon asam memiliki tajuk yang lebat dan cocok sebagai penghalang api karena tidak aka nada rumput dibawahnya. Walaupun merupakan jenis legume, asam bukanlah jenis pengikat nitrogen.

 

3.   Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Klasifikasi

Kingdom: Plantae

Divisi: Magnoliophyta

Kelas: Magnoliopsida

Sub kelas: Rosidae

Ordo: Geraniales

Famili: Oxalidaceae

Genus:Averrhoa

Spesies: Averrhoa bilimbi L.

Deskripsi

a.    Habitat

Belimbing wuluh atau belimbing sayur diduga berasal dari kepulauan Maluku dan kini tersebar ke seluruh Indonesia dan negara-negara sekitar seperti Filipina, Myanmar, dan Srilanka. Namun belimbing wuluh merupakan tumbuhan asli Amerika yang tumbuh subur di pekarangan yang memperoleh langsung cahaya matahari tetapi cukup kelembapan udaranya. Ini adalah dasarnya pohon tropis, kurang tahan terhadap dingin daripada caram bola itu, tumbuh terbaik di tanah yang kaya dan baik dikeringkan (tetapi juga berdiri batu kapur dan pasir). Ini lebih menyukai curah hujan merata sepanjang tahun, tetapi dengan 2 -untuk musim kemarau 3-bulan. Olehkarena itu spesies ini tidak ditemukan, misalnya, di bagian paling basah dari Malaysia.

b.    Habitus

Pohon tahunan dengan tinggi dapat mencapai 5-10m. Batang utamanya pendek dan cabangnya rendah. Batangnya bergelombang (tidak rata). Daunnya majemuk, berselang-seling, panjang 30-60 cm dan berkelompok di ujung cabang. Pada setiap daun terdapat 11 hingga 37 anak daun yang berselang-seling atau setengah berpasangan. Anak daun berbentuk oval.

c.    Daun

Daun belimbing sayur merupakan daun majemuk sepanjang 30-60 cm dengan 11-45 pasang anak daun. anak daun berwarna hijau, bertangkai pendek, berbentuk bulat telur hingga jorong dengan ujung agak runcing, pangkal membulat, tepi daun rata, panjang 2-10 cm, lebar 1-3 cm. Daging daunnya seperti perkamen, tipis tetapi cukup kaku.

d.    Batang

Pohon belimbing wuluh kecil setinggi sekitar 10 meter dengan diameter pangkal batang mencapai 30 cm. Batangnya bergelombang, tidak rata dan tidak bercabang banyak.

e.    Akar

Tanaman belimbing ini memiliki sistem akar tunggang, jika akar lembaga tumbuh terusmenjadi akar pokok yang bercabang-cabang menjadi akar-akar yang lebih kecil. Akar  pokok yang berasal dari akar lembaga disebut akar tunggang atau radix primaria. Susunanakar demikian biasanya terdapat pada biji belah dan tumbuhan biji telanjang.

f.    Bunga

Belimbing wuluh mempunyai bunga majemuk yang tersusun dalam malai, berkelompok. Bunga belimbing asam, seperti buah kepel, tumbuh keluar dari batang atau percabangan yang besar. Bunganya kecil, muncul langsung dari batang dengan tangkai bunga berambut. Mahkota bunga lima, berwarna putih, kuning atau lila. Bunga berbentuk bintang, berwarna merah muda sampai ungu.

g.    Buah

Buahnya elips hingga seperti torpedo, panjangnya 4-10cm. Warna buah ketika muda hijau, dengan sisa kelopak bunga menempel di ujungnya. Jika buah masak berwarna kuning atau kuning pucat. Daging buahnya berair dan sangat asam (bervariasi hingga manis sebetulnya). Kulit buah berkilap dan tipis.

h.    Biji

Bijinya kecil (6mm), berbentuk pipih, dan berwarna coklat, serta tertutup lendir. Bijinya merupakan bagian yang berasal dari bakal biji dan di dalamnya mengandung calon individu baru,yaitu lembaga. Lembaga akan terjadi setelah terjadi penyer bukan atau persarian yang diikuti oleh pembuahan.

i.    Manfaat

Buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) dapat dimanfaatkan sebagai sirup, bumbu masakan atau sayur, membersihkan noda pakaian, mengkilatkan barang-barang dari kuningan, dan sebagai bahan obat tradisional. Selain buah, daun dan batangnya juga bisa dijadikan campuran obat. Ini lantaran beberapa zat kimia yang terkandung pada tanaman seperti sponin, tanin, glucoside, kalsium oksalat, sulfur, asal format, dan peroksidase yang terkandung pada batang belimbing wuluh. Juga tanin, sulfur, asal sulfat, peroksidase, kalsium oksalat dan kalium sitrat pada daunnya. Sedangkan buah belimbing wuluh sendiri berkhasiat sebagai analgesik, dan diuretik. Buah belimbing wuluh berkhasiat sebagai obat tradisional untuk batuk rejan, gusi berdarah, sariawan, sakit gigi berlubang, jerawat, panu, tekanan darah tinggi, kelumpuhan, gangguan pencernaan, dan radang rektum.

 

 

Referensi

  • Darwati, Ireng. “Pengaruh Berbagai Zat Pengatur Tumbuh Terhadap Pertumbuhan Setek Melinjo (Gnetum Gnemon L)”. Pemberitaan Penelitian Tanaman Industri (1992)Vol XVII No. 4, April-Juni p 124-127
  • Sastrowiratmo, Sundoro. “Meningkatkan keberhasilan sambung tanam melinjo (Gentum gnemon L.)dengan perlakuan batang bawah dan umur bahan sambung”. (Dosen Fakultas Pertanian INSTIPER, Buletin Ilmiah INSTIPER (2000)vol. 7 (no.2)p. 25-31
  • Dian Kurniasari, Ir.Sunaryo, MS , Dr.Ir. Lily Agustina, MS, 2000. “STUDI SISTEM BUDIDAYA MELINJO (Gnetum gnemon) DALAM SISTEM AGROFORESTRY DI LAHAN BERKAPUR MALANG SELATAN”. The Faculty of Agriculture Brawijaya University
  • Bernard Enrico, 2008. “Pemanfaatan Biji Asam Jawa (Tamarindus indica) Sebagai Koagulan Alternatif Dalam Proses Penjernihan Limbah Cair Industri tahu”. Chemical Engineering, University of Sumatra Utara Library
  • Triandana Budi Wisesa, “Daya hambat ekstrak daun asam jawa (Tamarindus indica) terhadap Staphylococcus aureus dari penderita pioderma invitro”. Universitas Sebelas Maret.
  • Erawati Wulandari, “Uji Sitotoksisitas Ekstrak Air Asam Jawa 5% Terhadap Cell Line BKH-21. Universitas Indonesia, Jakarta.
  • Pusat Informasi Pertanian Trubus.- Kumpulan Kliping Belimbing: pengenalan jenis, budidaya, pascapanen, pemasaran.- Jakarta : PIP-Trubus, 1993.

Leave a comment

Filed under Taksonomi Tumbuhan Tinggi

PENELITIAN TUMBUHAN PAKU

  1.   Paku Suplir (Adiantum capillus-veneris)

Tumbuhan paku sejati merupakan tumbuhan paku yang bisa selalu kita temukan. Mengapa? Sebab, kita bisa menemukannya di sawah, di pekarangan rumah yang teduh, atau mungkin pada pot tanaman hias yang ada di depan rumah kita. Paku sejati juga termasuk tumbuhan yang memiliki struktur tubuh lengkap. Paku sejati sudah mempunyai akar, batang, dan daun yang sejati. Batangnya ada yang tertanam di dalam tanah membentuk rizhoma. Daunnya berupa makrofi l dan bentuknya bermacam-macam, bertangkai, dan tulangnya bercabang-cabang. Saat masih muda, daunnya akan tergulung pada ujungnya. Sementara, sisi bawahnya banyak terdapat sporangium. Contoh tanaman paku sejati adalah paku suplir (Adiantum capillus-veneris).

a.    Foto Spesies            

                                         

 

 

 

 

 

 

 

 

b.    Lokasi : Coban Rais Malang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

c.    Taksonomi

Kingdom: Plantae

Divisi: Pteridophyta

Kelas: Pteridopsida

Ordo: Polypodiales

Famili: Adiantaceae

Genus: Adiantum

Spesies: Adiantum capillus-veneris L.

 d.    Deskripsi

  • Habitat dan Habitus

Tumbuhan paku suplir (Adiantum capillus-veneris) terdapat pada tempat yang lembab dan basah kecuali pada daerah salju. Kebanyakan hidup di tempat-tempat yang terlindung seperti pada lereng pegunungan.

Tanaman ini tumbuh sebagai semak merumpun terdiri dari kumpulan tangkai daun yang muncul dari permukaan tanah tempat menopang helai-helai daun tipis, sehingga memberikan kesan rimbun dan menjuntai (Rukmana.1997).

  • Ciri Spesifik

Tumbuhan suplir cenderung tidak tahan hidup di daerah yang airnya terbatas. Suplir sangat suka tanah yang gembur, kaya bahan organik (humus). Tangkai entalnya khas, berwarna hitam mengkilap, kadang-kadang bersisik halus ketika dewasa. Bentuk stipe, pangkal meruncing, tepi daun bergerigi, ujung membelah seperti menjari dengan ukuran daun 0.5-1 cm. (Rukmana.1997).

  • Batang

Rizhoma merayap, mempunyai ruas-ruas yang panjang, jarang memperlihatkan batang yang nyata (Rukmana.1997).

  • Daun

Daunnya tidak berbentuk memanjang, tetapi cenderung membulat seperti segitiga terbalik. Daun-daunya sering kali bersisik atau berambut. Kebanyakan daun fertile sama dengan daun steril, tetapi juga dijumpai adanya dimorfisme.

  • Sori/Sorus

Spora terbentuk di dalam kotak spora atau sporangium sebagai alat reproduksinya yang terkumpul dalam sorus. Sorus merupakan kluster-kluster di sisi bawah daun pada bagian tepi. Sorus yang bentuknya bermacam-macam dan dilindungi selaput yang disebut insidium yang terletak pada tepi daun yang terlipat ke bawah dan mempunyai annulus sebagai mekanisme pengeluaran spora. Sorus yang masih muda terlindung oleh selaput indusium. Paku suplir mempunyai sorus bangun ginjal, jorong atau bangun garis, terletak pada tepi daun yang terlipat ke bawah berfungsi sebagai indisium (Wirakus.2003).

Gambar 1. Sorus

Gambar 2. Sporangium dari Adiantum sp. dengan perbesaran 40x

Keterangan :

  1. Spora
  2. Anulus
  3. Saluran Spora
  4. Septa
  • Akar

Akar dari tumbuhan ini merupakan rimpang tegak, yang akar sejatinya semakin menaik atau memanjat.  Akar berupa rhizome beruas pendek yang muncul akar-akar berupa serabut.  Pada ujung akar dilindungi oleh kaliptra atau tudung akar. Di belakang kaliptra terdapat titik tumbuh berupa sebuah sel yang berbentuk bidang empat, yang kearah luar membentuk sel-sel kaliptra, sedangkan jika menuju kearah dalammembentuk sel-sel akar (Tjitrosoepomo.2009).

  • Manfaat

Manfaat yang utama adalah sebagai tanaman hias yang bisa ditanam di dalam ruang atau di luar ruang. Lainnya dapat digunakan sebagai bahan makanan.

2.    Paku Sayur (Athyrium sp.)

a.    Foto Spesies         

                                                  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

b.    Taksonomi

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)

Divisi: Pteridophyta (paku-pakuan)

Kelas: Pteridopsida

Ordo: Polypodiales

Famili: Polypodiaceae

Genus: Athyrium

Spesies: Athyrium sp.

c.    Deskripsi

Athyrium sp. (paku sayur) didistribusikan secara luas di Filipina. Hal ini ditemukan dari India ke Polinesia. Memiliki akar yang gemuk, liat akar yang sering berkumpul dapat dijual. Tangkai berwarna hijau dan agak halus, dengan panjang 20-50 cm. Pada daun 2 – 3 pinnate, 5-3 menyirip, dan panjangnya 50-80 cm. Yang pinnules berbentuk pisau pembedah dengan panjang 2-5 cm dan agak kasar bergerigi. Para sori yang dangkal, diatur di pasang di sisi pembuluh darah atau veinlets. Daun muda jauh lebih diinginkan dan dimakan di semua bagian baik mentah atau dimasak. Mereka digunakan sebagai sayuran, atau sebagai bahan minuman. Mereka adalah sumber kalsium yang adil, yang sangat baik sumber fosfor dan sumber yang baik dari besi serta mengandung vitamin B. Di Filipina daun muda digunakan dengan gula, karena baik untuk hemoptisis dan batuk biasa. Di Indonesia paku ini tersebar mulai dari Sumatera, Jawa, Sulawesi sampai ke Irian.

  • Habitat dan Habitus

Habitatnya tumbuhan ini banyak dijumpai di lembah-lembah di pinggir sungai terlindung pada tanah yang kaya bahan organik. Dapat tumbuh dari ketinggian 350 m -1600 m dpl lebih. Habitus berupa semak setinggi 40-50 cm.

  • Daun

Majemuk, menyirip, lanset, tepi bergerigi, ujun runcing, pangkal tumpul, panjang 5-6 cm, lebar 1-2 cm, tangkai silindris, berambut, pertulangan menyirip, hijau. Ental yang muda ditutupi oleh sisik berwarna coklat muda. Tersusun atas 15 pasang anak-anak daun panjangnya 40 cm dan lebarnya 8 cm. Tekstur daun agak kaku dengan tepi bergigi berwarna hijau gelap.

  • Batang

Batang terlihat tegak dan berkayu, berbentuk bulat, panjang, permukaan kasar, terdapat rambut-rambut uniseluler yang berwarna coklat muda agak kehitaman dan mudah lepas saat disentuh yang melekat pada batangnya. Panjang batang mencapai 2-3 m bahkan bisa lebih dengan diameter mencapai sekitar 5 cm, mempunyai percabangan, dan berwarna hitam kecoklatan. Batangnya kebanyakan bercabang, berkarang dan jelas kelihatan berbuku-buku dan beruas-ruas. Pada buku-buku batangnya terdapat karangan daun yang hanya menyerupai sisik saja.

  • Akar

Menurut Tjitrosoepomo (1998) bahwa Atryrium ascendens memiliki akar serabut.

  • Sori/Sorus

Pada spesies ini ditemukan adanya kumpulan spora (sarus) yang terletak di bawah daun, bentuknya beraturan seperti jala, membentuk seperti huruf V yang berbentuk garis zig-zag dan hampir membuat bentukan seperti segitiga. Pada tangkai daun terdapat bentukan seperti bunga atau biji yang berwarna merah dan berukuran agak besar. pada ketiak anak daun tumbuh tunas untuk perbanyakan diri (Sastrapraja dalam Darma, dkk, 2007 ).

Sporangium dengan perbesaran 20 x tidak terlalu terlihat bentuknya, tetapi dengan perbesaran 60-80 x akan terlihat bentukknya, yaitu akan terlihat jelas bagian-bagian dari sporangium. Sporangium kebanyakan terdapat dalam sorus, biasanya sorus dilindungi oleh indusium atau tepi daun yang melipat. Pada dinding sporangium terdapat annulus, kebanyakan bersifat homosfor, hanya yang temasuk golongan paku air yang bersifat heterosfor. Gametofitnya bersifat eksosporik. Sorusnya dapat ditemukan di bawah permukaan daunnya yang bentuknya memanjang mengikuti arah peruratan daunnya, berbentuk huruf V dan berwarna kecoklatan.

Gambar 1. Sorus pada Anthyrium

  • Manfaat

Athyrium sp. memiliki fungsi sebagai bahan sayur-sayuran, sebagai tanaman hias. Tetapi, sebagian besar paku ini berfungsi sebagai sayur-sayuran oleh karena itu paku ini disebut sebagai paku sayur dan sebagai pengatur siklus udara.

3.    Paku Kikir (Tectaria sp.)

a.    Foto Spesies                                                           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

b.    Taksonomi

Kingdom: Plantae

Divisi: Pteridophyta

Kelas: Pteridops

Ordo: Polypodiales

Famili: Polypodiaceae

Genus: Tectaria

Spesies: Tectaria crenata Cav.

c.    Deskripsi

  • Habitat dan Habitus

Spesies Tectaria sp. diperoleh dari Taman Hutan Raya Cangar, habitatnya yaitu di tanah atau biasanya juga dapat ditemukan di bebatuan. Jenis paku ini mempunyai rimpang yang ramping dan panjang, berakar dalam tanah, memanjat pohon tetapi tidak epifit, atau ada sebagian yang rimpangnya menjalar pada permukaan bebatuan, menyukai keteduhan.

Perawakan paku ini termasuk semak atau bisa dikatakan agak berkayu. Menurut Haupt (1953), hampir semua paku-pakuan adalah herba atau agak berkayu. Ada pula yang berupa pohon.

  • Ciri Spesifik

Spesies ini sama sekali tidak mempunyai ciri-ciri khusus meskipun itu dari vernasi bergelung (daun mudanya menggelung dan akan membuka bila telah dewasa), dimorfisme (antara sporofil dan tropofil dalam satu individu), daun tereduksi (pada daun majemuk, anak daun bagian bawah sangat kecil), daun sarang, ligula dan daun penumpu.

  • Daun

Daunnya tidak ental. Bentuk daun lanset yaitu semakin ke ujung semakin mengecil atau bisa dikatakan ujungnya runcing. Warnanya hijau tapi tidak hijau pekat karena habitatnya yang dibawah dan tidak begitu tinggi sehingga cukup terhalang oleh spesies lain yang lebih tinggi untuk memperoleh sinar matahari dalam berfotosintesis. Urat daunnya menyirip, tetapi urat daunnya tersebut tidak bercabang-cabang. Tekstur daun Tectaria singaporeana seperti selaput dengan permukaan yang cukup halus. Daun spesies ini termasuk daun tunggal karena pada tangkai yang keluar langsung dari akar hanya terdapat 1 helaian daun saja, tidak bercabang atau tidak majemuk.

  • Batang

Bentuk batang adalah bulat, dengan permukaan yang halus tidak mempunyai ramenta. Ukuran panjang batangnya sekitar 33 cm, berwarna coklat, tanpa adanya percabangan karena batang pada akarnya langsung keluar dari atas tanah. Bentuk batang atau cabang bermacam-macam, antara lain bulat beralur dan berusuk secara longitudinal, beruas-ruas panjang dan kaku. Ada yang panjang ramping, bulat dengan simetri dorsiventral (Vasishta, 1972).

Permukaan batang paku-pakuan tidak selalu halus, tetapi kadang-kadang dihiasi dengan bentuk tertentu, seperti duri, rambut-rambut uniseluler, ramenta, lapisan lilin, dan sebagainya (Vasishta, 1972).

  • Akar

Spesies ini mempunyai akar serabut dikotom. Pada umumnya akar paku-pakuan adalah serabut yang bercabang-cabang secara dikotom. Adapula yang bercabang monopodial atau tidak bercabang. Namun tidak semua paku-pakuan mempunyai akar, misalnya pada bangsa Psilotales, fungsi akarnya digantikan oleh rizoid (Vasishta, 1972).

  • Sporofil dan Sporangium

Paku ini termasuk paku yang steril atau biasa disebut tropofil. Berdasarkan fungsinya daun tumbuhan paku dibedakan menjadi tropofil dan sporofil. Tropofil merupakan daun yang khusus untuk asimilasi atau fotosintesis. Sporofil berfungsi untuk menghasilkan spora.

Pada daun-daun seringkali terbentuk tunas-tunas adventif ( tunas liar) yang dapat terlepas dan berguna sebagai alat berkembang biak vegetatif. Dapat pula tunas atau daun berubah menjadi geragih (stolon) yang dapat dipergunakan untuk tujuan yang sama. Selain itu dari protalium dapat pula terbentuk tumbuhan paku baru tanpa pembuahan, jadi secara apogam atau apospor.

Karena termasuk paku steril, berarti tidak mempunyai sporangium. Paku yang fertil, letak sporangiumnya bermacam-macam yaitu ada yang di bagian tepi daun ataupun menyebar. Bentuknya pun juga bervariasi antara lain bentuk jantung, memanjang dan membulat.

Sorus mengandung banyak sporangium yang terletak di bagian bawah daun, sorus bentuk bola. Indusium bisa ada atau tidak, jika ada berbentuk bola, piala atau mangkok.

Gambar. Spora pada beberapa Tumbuhan Paku

Leave a comment

Filed under Taksonomi Tumbuhan Tinggi

MAKHLUK-MAKHLUK BERCAHAYA

Thomas Edison adalah seorang ilmuwan terbesar di dunia. Sekitar seratus dua puluh tahun telah berlalu sejak ia menemukan bola lampu. Dalam masa ini, bola lampu telah menjadi bagian penting kehidupan manusia. Kini, jutaan bola lampu mungil bersama-sama menerangi kota-kota besar di seluruh dunia.

 

Penerangan menjadi suatu simbul penting bagi peradaban ini. Namun, ada sumber penerangan lain. Kita tentunya pernah menjumpai cahaya kecil yang menerangi kegelapan malam hari. Cahayanya begitu kuat dan terang, namun sumber penerangan ini sangatlah berbeda dengan bola lampu. Bahkan ia sama sekali bukanlah benda, melainkan makhluk hidup. Ia adalah seekor kunang-kunang. Makhluk kecil ini menghasilkan cahaya dalam tubuhnya meski ia tidak memiliki bola lampu. Meskipun tidak menggunakan listrik, ia memiliki teknologi yang jauh lebih hebat. Teknologi ini lebih efektif dari bola lampu yang mampu merubah sepuluh persen saja dari energinya menjadi cahaya, sedangkan sembilan puluh persen sisanya berubah dan hilang menjadi panas.

 

Sebaliknya, kunang-kunang mampu menghasilkan hampir seratus persen cahaya dari energi yang ada. Ini dikarenakan disain sempurna pada sistem penghasil cahaya yang dimilikinya. Tubuhnya berisi zat kimia khusus bernama lusiferin, dan enzim yang disebut lusiferase. Untuk menghasilkan cahaya, dua zat kimia ini bercampur, dan percampuran ini menghasilkan energi dalam bentuk cahaya. Molekul kompleks ini telah didisain secara khusus untuk memancarkan cahaya. Penempatan setiap atom yang membentuk molekul tersebut telah ditentukan sesuai dengan tujuan ini. Tidak ada keraguan bahwa disain biokimia ini bukanlah sebuah kebetulan. Ia sengaja diciptakan secara khusus. Sebagaimana Allah telah memberi semua makhluk hidup ciri mereka masing-masing, Dia juga telah mengajarkan kunang-kunang cara membuat cahaya.

 

Tapi, untuk apakah kunang-kunang membuat cahaya melalui teknologi yang sedemikian maju. Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan ini, kita harus mengamati lebih dekat sekawanan kunang-kunang. Sekelompok kunang-kunang dalam jumlah besar, hingga ratusan ribu, di malam hari memunculkan pemandangan yang membuat kita seolah sedang berjalan di bawah bintang-bintang.

 

Cahaya ini sangatlah penting bagi kunang-kunang sebagai alat komunikasi. Sepanjang sejarah, manusia telah menggunakan berbagai sarana untuk berkomunikasi. Salah satunya adalah sandi morse, yang terdiri atas kombinasi sinyal panjang dan pendek, dan dipakai pada telegram. Kunang-kunang menggunakan sinyal cahaya untuk berkomunikasi, cara yang menyerupai sandi morse.

 

Kunang-kunang jantan menyalakan dan memadamkan cahayanya untuk mengirim pesan kepada sang betina. Pesan ini berisi kode tertentu. Dan kunang-kunang betina menggunakan kode yang sama untuk mengirim pesan balasan kepada sang jantan. Sebagai hasil dari pesan timbal-balik ini, sang jantan dan betina mendekat satu sama lain.

 

Sejak saat ia dilahirkan, tiap kunang-kunang mengetahui bagaimana berkirim pesan dengan cara ini, dan bagaimana memahami pesan yang dikirim oleh yang lain. Singkatnya, masing-masing dari ribuan kunang-kunang yang kita lihat bersama di kegelapan malam adalah sebuah keajaiban penciptaan. Pencipta sistem yang luar biasa ini adalah Allah, Pencipta semua makhluk hidup.

 

Selama beberapa malam di Segitiga Bermuda, pertunjukan cahaya tengah berlangsung. Beberapa saat setelah matahari tenggelam, cahaya yang mempesona muncul di permukaan laut. Cahaya ini berasal dari cacing laut betina yang sedang berada di permukaan. Sang betina mencampurkan dua cairan kimia yang ia hasilkan dalam tubuhnya. Makhluk ini tahu bagaimana menggunakan bahan-bahan kimia untuk memproduksi cahaya dengan cara yang menakjubkan. Hasil akhirnya adalah sebuah pertunjukan cahaya yang mengagumkan. Cacing betina melakukan ini untuk menarik perhatian sang jantan. Makhluk yang sedang mendekat dengan cahaya kecilnya yang terang adalah cacing laut jantan. Sepuluh menit kemudian, permukaan laut telah tertutupi oleh ratusan betina yang memancarkan cahaya terang. Jika bulan keluar dari balik awan dan menerangi permukaan laut, mereka kembali ke kedalaman lautan. Dua puluh menit kemudian pertunjukan ini berakhir.

 

Jika kita ingin menyaksikan tempat sesungguhnya, di mana binatang menggunakan cahaya untuk berkomunikasi, maka kita harus pergi ke tempat paling gelap di bumi, yaitu dasar lautan. Kapal selam ini didisain khusus untuk dapat menyelam hingga kedalaman enam ratus meter. Sinar matahari tidak dapat menembus kedalaman di bawah dua ratus meter. Di sinilah tempat paling gelap di bumi. Tekanannya dua puluh kali lebih tinggi dibandingkan di permukaan laut. Anda mungkin berpikir bahwa tak ada yang mampu hidup dalam kondisi ini. Namun sebuah pemandangan menakjubkan muncul ketika terlihat suatu sinyal cahaya dari luar kapal selam. Tiba-tiba muncul cahaya dari kegelapan dasar lautan, dengan kata lain terdapat makhluk-makhluk hidup yang menjawab cahaya dengan cahaya, dan berkomunikasi dengan cara memancarkan cahaya dalam kegelapan ini. Dengan melihat makhluk ini dari dekat, anda akan melihat keagungan ciptaan Allah.

 

Di dasar lautan terdapat makhluk mengagumkan yang memancarkan cahaya merah. Ia adalah seekor ubur-ubur. Pertunjukan cahaya dari spesies lain yang berada di bagian lebih atas menyerupai pertunjukan karya seni. Pertunjukan ini dapat dinikmati sepenuhnya setelah lampu kapal selam dimatikan. Pemandangan yang muncul adalah beragam makhluk mempesona yang bersinar dengan cahaya yang dihasilkannya sendiri. Terdapat sejenis makhluk laut yang berenang-renang sambil memancarkan cahaya tanpa seorang pun tahu apa fungsi cahaya ini.

 

Di antara makhluk bercahaya di dasar lautan adalah ubur-ubur, yang memiliki tubuh lunak dan lembut. Tak satu pun dari mereka memiliki akal atau kecerdasaan. Tidak juga mereka tahu bagaimana cahaya dalam tubuh mereka terbentuk. Sungguh tidak rasional untuk berpikir bahwa makhluk yang demikian kompleks dengan sistemnya yang rumit muncul secara kebetulan. Tak ada keraguan bahwa makhluk ini sengaja diciptakan dengan disain khusus.

Oleh karenanya, pertunjukan cahaya ini, yang datang dari ratusan meter di bawah permukaan laut, sebenarnya mengungkapkan kepada kita akan kekuasaan Allah. Dia menciptakannya secara khusus. Segala sesuatu di darat dan di laut adalah kepunyaan-Nya. Dan Dia memiliki ilmu dan pengetahuan yang tak terbatas. Dalam sebuah ayat dinyatakan:

 

“Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-nama Yang Paling Baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan dibumi dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Hasyr, 59:24)

Jun 14, 2007

Leave a comment

Filed under Sains dan Islami

MIGRASI KUPU-KUPU RAJA

Beragam satwa yang kita saksikan di dunia ini hanyalah sedikit dari beragam keajaiban penciptaan yang ada di alam nan luas terbentang. Allah Yang Maha Pencipta melengkapi semua makhluk hidup di bumi dengan sifat-sifat khusus mereka yang sangat mengagumkan. Masing-masing dari mereka adalah bukti ke-Agung-an Allah Yang Maha Kuasa. Adalah sangat penting bagi setiap orang untuk mampu menyaksikan penciptaan yang menakjubkan di segenap penjuru jagat raya ini, beserta hikmah yang ada di dalamnya. Allah menghendaki kita agar berpikir tentang penciptaan dan mengambil pelajaran dari padanya. Dalam sebuah ayat Alquran, Allah Swt. Berfirman:

Katakanlah! Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Ankabuut [29]:20)

Terdapat jenis luar biasa yang hidup di Kanada bagian selatan. Dialah kupu-kupu raja. Setiap kupu-kupu raja, seperti halnya yang lain, hadir di dunia ini setelah melalui serangkaian perubahan bentuk secara sempurna.

Pertama, induk meletakkan telurnya di atas sehelai daun. Larva yang menetas dari telur ini kemudian memakan dedaunan untuk beberapa saat sebelum pada akhirnya berubah menjadi ulat. Masing-masing dari ulat-ulat tersebut kemudian membuat sarang yang disebut kepompong untuk diri mereka sendiri. Kepompong kupu-kupu raja adalah sebuah keajaiban desain. Ia menempel pada cabang pohon dengan cara bergantung pada sehelai benang sangat tipis tapi kuat. Ulat tumbuh berkembang dalam kepompong ini dan perlahan muncul sebagai makhluk baru yang sungguh indah dan menawan, yakni seekor kupu-kupu. Awalnya, sayap muda ini tampak kusut, berkerut dan lemah. Tapi sayap tersebut kemudian mengembang dan melebar setelah darah dipompakan kedalamnya. Kini kupu-kupu raja telah siap untuk terbang.

Terdapat perilaku menarik yang membedakan kupu-kupu raja dengan jenis lain. Dalam kurun waktu satu tahun, empat generasi kupu-kupu raja yang berbeda lahir. Tiga generasi pertama memiliki masa hidup sekitar lima hingga enam minggu. Akan tetapi, yang terlahir setelahnya, yakni generasi keempat, sangatlah berbeda. Generasi ini akan terus hidup hingga mereka telah selesai melakukan migrasi selama delapan bulan.

Migrasi dimulai dari pusat-pusat populasi kupu-kupu raja di Kanada bagian selatan menuju ke arah lebih selatan lagi. Sekelompok kupu-kupu raja pergi ke California, dan sekelompok lainnya lebih ke selatan lagi, yakni hingga Mexico. Yang menarik adalah, semua kupu-kupu raja bertemu satu sama lain di sepanjang perjalanan, seolah mereka telah menerima perintah yang sama dari satu sumber, dan kemudian bersama-sama melanjutkan perjalanan menuju ke tempat tujuan mereka. Permulaan migrasi kupu-kupu raja juga telah direncanakan berdasarkan acuan waktu yang sama. Mereka tidak memulai perjalanan pada sembarang hari, tapi pada satu hari tertentu di musim gugur, yaitu autumunal equinox, saat ketika siang dan malam memiliki panjang waktu yang sama.

Setelah terbang selama dua bulan, mereka akhirnya tiba di hutan-hutan yang hangat di selatan. Jutaan kupu-kupu raja menutupi pepohonan, dan selama empat bulan, dari Desember hingga Maret, mereka tinggal di tempat ini tanpa makan sesuatupun. Mereka mampu bertahan hidup dengan lemak yang tersimpan dalam tubuh dan hanya meminum air.

Mekarnya bunga-bunga di musim semi sangatlah berarti bagi kupu-kupu raja. Setelah menunggu selama empat bulan, mereka berpesta pora memakan nektar, yakni cairan manis yang dihasilkan bunga. Kini mereka telah menyimpan energi yang akan mereka perlukan ketika kembali ke bagian utara Amerika. Di akhir Maret, sebelum memulai perjalanan, mereka melakukan perkawinan. Pada hari itu, yakni spring equinox, saat siang dan malam mempunyai panjang waktu yang sama, koloni kupu-kupu raja memulai perjalanan mereka ke arah utara.

Setelah menempuh perjalanan yang panjang, mereka akhirnya tiba di Kanada, dan tak lama kemudian mereka mati. Tapi, sebelum mati, mereka melahirkan generasi pertama tahun tersebut, yang akan hidup selama sekitar satu setengah bulan. Selanjutnya, lahirlah generasi kedua dan ketiga yang kemudian digantikan oleh generasi keempat yang juga akan memulai migrasi. Generasi ini akan hidup enam bulan lebih lama dari generasi lainnya, dan demikianlah, siklus kehidupan kupu-kupu raja ini terus berlanjut.

Pengembaraan menakjubkan ini memunculkan beragam pertanyaan menarik. Bagaimana setiap generasi keempat dilahirkan untuk hidup enam bulan lebih lama dari generasi pertama hingga ketiga? Bagaimana masa hidup generasi berumur panjang ini selalu bertepatan dengan saat musim dingin? Bagaimana mereka senantiasa memulai migrasi mereka pada hari ketika siang dan malam memiliki panjang waktu yang sama, dan bagaimana mereka mampu membuat perhitungan yang sangat tepat ini? Bagaimana generasi kupu-kupu raja yang baru lahir, yang sebelumnya tak pernah melakukan migrasi, mengenali jalur perjalanan mereka?

Semua ini menunjukkan bahwa kupu-kupu raja telah diciptakan lengkap dengan perencanaan migrasi mereka yang sempurna, dan mereka mematuhi perencanaan ini tanpa melakukan kesalahan sedikit pun. Jika terjadi kesalahan dalam perencanaan ini, mereka tidak akan mampu menyelesaikan migrasi. Dan jika ini yang terjadi, maka semua kupu-kupu raja akan mati di musim dingin, dan pada akhirnya spesies kupu-kupu raja akan punah. Jelaslah bahwa makhluk ini telah diciptakan dengan sifat khusus, dan migrasi tahunan yang luar biasa ini telah diilhamkan dalam diri mereka.

Adalah Allah, Tuhan langit dan bumi, Pencipta dan Penguasa segala sesuatu, Yang menciptakan makhluk yang menakjubkan ini dan memberikan ilham kepadanya. Binatang mungil yang perjalanan hidupnya kita pelajari ini telah membawa kita pada kesaksian atas kenyataan yang sangat penting: kebesaran Allah dan keagungan ciptaan-Nya tampak nyata di segenap penjuru alam ini, dan pengetahuan Allah meliputi segala sesuatu. Allah menyatakan hal ini dalam ayat Alquran:

Sesungguhnya, Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia. Pengetahua-Nya meliputi segala sesuatu. (QS. Thaahaa [20]:98)

Jun 14, 2007

Leave a comment

Filed under Sains dan Islami